MOS 2
"Lari-lari kalian sudah terlambat, cepat berbaris" Suara teriakan itu semakin terdengar keras dan lantang. Sayang aku tak bisa menyaksikannya hanya bisa mendengar itu pun dari kejauhan.
Masa Orientasi Siswa 1
Entah apa pikiranku saat itu tentang MOS. Minggu sore persiapan untuk itu. Kakak kelas menyuruh kami membawa sapu lidi, tas putih bertuliskan " Gembolan pangaweruh" yang berbahan dari karung terigu, sendal beralaskan warna putih di beri nama, pita kuning yang di pasang dikepala, dengan buku kampus untuk membuat laporan setiap harinya, dan lain-lain. Sangat membuat ku pusing. Biasanya aku selalu di bantu kakak-kakakku atau orang tuaku, sekarang aku lakukan semuanya sendiri. Ternyata betapa sangat membutuhkannya diriku kepada keluargaku. Padahal aku terkadang tidak menghargai mereka. Tapi ya sudahlah hanya penyesalan itu tak membuat masa lalu aku berubah.
Aku akan berada di lingkungan keluarga yang ketat aturannya. Aku di suruh nge-kost ma bapak disini. Ga papa lah, untungnya aku langsung mendapat teman baru. Dia Ulan teman sekamarku nanti selama 4 tahun. Anaknya cantik imut yaaaaa ga beda-beda jauhlah ma aku..hihihihi PD mode On. Tapi bukan dia yang akan aku bahas.
Pagi buta jam 3 pagi mataku sudah terbuka menatap langit-langit. Karena tidak mau kesiangan akupun segera beranjak menuju kamar mandi. Semua temanpun bersiap. Rumah ini sekaligus kost-kostan menampung para siswa dan siswi diantaranya 2 siswi tingkat satu aku da Ulan 2 siswa Aryo dan Jalnie. Eh lupa ada tingkat 2 ada a'Bayu a'Ghalib dan t' Elsa juga tingkat 4 t'Sri. Lumayan banyak kan? Itu juga juga udah uyuhan..
Sarapan pun dilakukan sekitar jam 4 pagi. Saat orang-orang tidur lagi enak-enaknya, bayangkan kita udah mandi udah siap pergi ke sekolah, eit bukan untuk belajar tapi untuk pengenalan sekolah dan teman-teman baru. Sarapan itu membuatku sakit perut, karena tidak terbiasa makan banyak dikala pagi buta.
Kamipun berjalan seiring detakan detik jam dibilang santai juga engga di bilang cepat juga engga. Di depan gerbang sekolah kami agak kaget setelah melihat kakak kelas sudah siap menyambut. Kami menghampiri dengan sedikit takut tetapi dia tersenyum dan mengangkat tangannya seperti yang hendak bersalaman tapi tidak bersentuhan,"Assalamu'alaikum". Oh ramahnya kakak kelasku ini udah cakep putih sikapnya sangat terjaga. Hmmm....Ah sudahlah aku harus bergegas mendekati aula untuk siap-siap karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pada akhirnya jam sudah menunjukan 04.45, datang seorang lelaki dengan suara yang lantang tapi tak begitu jelas mukanya dikarenakan suasana masih gelap,"Semua berbaris, ikuti komando saya, siap gerak, lencang kanan gerak" . Yah kami mengikuti saja perintah itu. Tiba-tiba aku tersentak mendengar dari kejauhan para kakak kelas berteriak di depan gerbang," Cepat-cepat kalian sudah terlambat 2 menit". Entah apa yang terjadi, terdengar suara hitungan "satu, dua, tiga" Ah sudahlah pandangan aku harus tetap kedepan.
Aku akan berada di lingkungan keluarga yang ketat aturannya. Aku di suruh nge-kost ma bapak disini. Ga papa lah, untungnya aku langsung mendapat teman baru. Dia Ulan teman sekamarku nanti selama 4 tahun. Anaknya cantik imut yaaaaa ga beda-beda jauhlah ma aku..hihihihi PD mode On. Tapi bukan dia yang akan aku bahas.
Pagi buta jam 3 pagi mataku sudah terbuka menatap langit-langit. Karena tidak mau kesiangan akupun segera beranjak menuju kamar mandi. Semua temanpun bersiap. Rumah ini sekaligus kost-kostan menampung para siswa dan siswi diantaranya 2 siswi tingkat satu aku da Ulan 2 siswa Aryo dan Jalnie. Eh lupa ada tingkat 2 ada a'Bayu a'Ghalib dan t' Elsa juga tingkat 4 t'Sri. Lumayan banyak kan? Itu juga juga udah uyuhan..
Sarapan pun dilakukan sekitar jam 4 pagi. Saat orang-orang tidur lagi enak-enaknya, bayangkan kita udah mandi udah siap pergi ke sekolah, eit bukan untuk belajar tapi untuk pengenalan sekolah dan teman-teman baru. Sarapan itu membuatku sakit perut, karena tidak terbiasa makan banyak dikala pagi buta.
Kamipun berjalan seiring detakan detik jam dibilang santai juga engga di bilang cepat juga engga. Di depan gerbang sekolah kami agak kaget setelah melihat kakak kelas sudah siap menyambut. Kami menghampiri dengan sedikit takut tetapi dia tersenyum dan mengangkat tangannya seperti yang hendak bersalaman tapi tidak bersentuhan,"Assalamu'alaikum". Oh ramahnya kakak kelasku ini udah cakep putih sikapnya sangat terjaga. Hmmm....Ah sudahlah aku harus bergegas mendekati aula untuk siap-siap karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pada akhirnya jam sudah menunjukan 04.45, datang seorang lelaki dengan suara yang lantang tapi tak begitu jelas mukanya dikarenakan suasana masih gelap,"Semua berbaris, ikuti komando saya, siap gerak, lencang kanan gerak" . Yah kami mengikuti saja perintah itu. Tiba-tiba aku tersentak mendengar dari kejauhan para kakak kelas berteriak di depan gerbang," Cepat-cepat kalian sudah terlambat 2 menit". Entah apa yang terjadi, terdengar suara hitungan "satu, dua, tiga" Ah sudahlah pandangan aku harus tetap kedepan.
Kebahagiaan tertunda
Saatnya untuk mengambil hasil akhir test. Yah di terima atau engak. Tapi hanya itulah yang di tunggu seenggaknya ma bapakku. Akupun berharap apapun hasilnya bapak tetap senang. Aku pergi mengambil hasil bersama sepupuku dan ayahku pun ke sekolah pilihannya.
Entah kenapa rasanya aku merasa sangat baik-baik saat itu. Kakak aku yang mengambil hasilnya. BTW(ngomong-ngomong) dari tadi aku bawa-bawa kakak yah tapi lom dijelasin. Kakak ku yang ini namanya Igun Sopian. Dia akan menginjak dunia perkuliahan yang membuat pikiran bapak bertambah karena biaya begitu besar untuk masuk universitas swasta. Dia sering bermain ma teman-temannya, motor-motoranlah ngineplah hingga membuat mama khawatir tapi dia ga peduli semua itu. Begitulah anak laki yang sedang merasakan dunia mudanya.
Balik lagi ke cerita yang tadi, sampai akhirnya kakak memberi tahu hasilnya. Aku dan sepupuku di terima. Dan tak ada rasa bahagia antara kami, lempeng-lempeng ajalah karena memang tak terlalu membuat kami merasa senang. Sesampainya dirumah bapak belum pulang dia masih di Bandung. Bisa jadi ini kabar gembira untuknya. Aku sudah membayangkan sekolah di kota sendiri. Berangkat dengan sepupu aku. Sepertinya asyik juga. Tiba-tiba bapak datang dengan muka kecewa. Aku udah pasti menyangka sudah pasti tidak di terima. Tapi bapak langsung tersenyum bilang, "neng lulus, akhirnya kamu keterima disana, bapak bangga ma kamu". Aku terdiam sejenak dan sedikit berkeluh dalam hati," duh kenapa mesti di terima sih, kebayang kalo aku disana...hiks hiks"
Entah kenapa rasanya aku merasa sangat baik-baik saat itu. Kakak aku yang mengambil hasilnya. BTW(ngomong-ngomong) dari tadi aku bawa-bawa kakak yah tapi lom dijelasin. Kakak ku yang ini namanya Igun Sopian. Dia akan menginjak dunia perkuliahan yang membuat pikiran bapak bertambah karena biaya begitu besar untuk masuk universitas swasta. Dia sering bermain ma teman-temannya, motor-motoranlah ngineplah hingga membuat mama khawatir tapi dia ga peduli semua itu. Begitulah anak laki yang sedang merasakan dunia mudanya.
Balik lagi ke cerita yang tadi, sampai akhirnya kakak memberi tahu hasilnya. Aku dan sepupuku di terima. Dan tak ada rasa bahagia antara kami, lempeng-lempeng ajalah karena memang tak terlalu membuat kami merasa senang. Sesampainya dirumah bapak belum pulang dia masih di Bandung. Bisa jadi ini kabar gembira untuknya. Aku sudah membayangkan sekolah di kota sendiri. Berangkat dengan sepupu aku. Sepertinya asyik juga. Tiba-tiba bapak datang dengan muka kecewa. Aku udah pasti menyangka sudah pasti tidak di terima. Tapi bapak langsung tersenyum bilang, "neng lulus, akhirnya kamu keterima disana, bapak bangga ma kamu". Aku terdiam sejenak dan sedikit berkeluh dalam hati," duh kenapa mesti di terima sih, kebayang kalo aku disana...hiks hiks"
Proses tek terlupakan
Hari yang sama ayahku pergi sendiri tidak bersama aku ke Cimahi. Saking dia yg pengen aku masuk ke sekolah pilihan dia, rela untuk pergi kesana kemari Cimahi-Garut. Sedang aku sendiri mendaftar ke SMK yang di Garut bersama sepupu. Dikarenakan orang tua sepenuhnya belum percaya kalo aku pergi jauh-jauh, kakak akupun mengantarku.
Tau ga??? Bayangkan...betapa capenya diriku melakukan test lari dua kali di Garut dan Cimahi. Bayangkan bayangkan. Ga kira-kira lagi masing-masing tempat 2.4 km. Fffiiiiiiuuuhhhh...melelahkan sekali.
Kalo di ceritain lucu bgt deh. Ini cerita test lari di Cimahi. Lari aku bersama para cwo-cwo hati aku dah ciut, aku mencoba untuk pasrah. Keliling pertama oke ga ada masalah, keliling kedua udah mulai cape yang ketiga udah mulai ripuh, keempat dan selanjutnya udah deh parah..Kaki kayak g nginjek..g tau hitungan keberapa aku berenti aja weeeee...yakin g yakin lulus test. Pasrah deh
Tau ga??? Bayangkan...betapa capenya diriku melakukan test lari dua kali di Garut dan Cimahi. Bayangkan bayangkan. Ga kira-kira lagi masing-masing tempat 2.4 km. Fffiiiiiiuuuhhhh...melelahkan sekali.
Kalo di ceritain lucu bgt deh. Ini cerita test lari di Cimahi. Lari aku bersama para cwo-cwo hati aku dah ciut, aku mencoba untuk pasrah. Keliling pertama oke ga ada masalah, keliling kedua udah mulai cape yang ketiga udah mulai ripuh, keempat dan selanjutnya udah deh parah..Kaki kayak g nginjek..g tau hitungan keberapa aku berenti aja weeeee...yakin g yakin lulus test. Pasrah deh
Dua hari selanjutnya Test lari di sekolah pilihan kedua. Aku merasa senang karena ada perempuannya. Aku pun berkenalan. Namanya Desi, anaknya cantik putih rambut panjang baik juga. Ngobrol ini itu dan diapun tau aku daftar di dua sekolah. Sempat menanyakan sepupuku. "Itu siapa?" sambil menunjuk sepupu aku yang memang kami datang bareng saat itu. " Oh itu Agung sepupu aku, tadinya udah masuk STM Penerbangan tapi ga bener. Daftar lagi deeh" jelasku panjang padahal pertanyaan dia singkat..hehe. Sangat kebetulan ternyata kamipun sekelompok dalam test.
Mulailah kami berlari dengan penuh semangat di temani seorang guru dibelakang. Berhubung para cwo-cwo lebih kuat sampai kamipun tertinggal. Mereka makin menjauh dari pandangan dan semakin jauh. Langkah aku dan Desi pun makin sini makin perlahan sampai akhirnya jalan kaki..hehe.
Udah lulus tetep deg2an
Kelulusan SMP ku ini membuat aku bingung dengan pilihan yang akan aku jalani kedepannya. Gimana gak bingung, cita2 aku sih pengen jadi dokter atau seenggaknya jadi perawat. Hasil ujian yang aku dapat pas-pasan banget padahal usaha aku udah maksimal. Semua itu membuat aku pasrah, aku serahkan pada ayahku mau di masukan ke sekolah mana.
Ayahku bilang, "neng, kalaupun kamu mau jadi dokter sekalipun, bapak ga yakin bisa biaya-in kuliah kamu" sambil menunjukan muka kekecewaan. "Bapak yakin kalo kamu sekolah di STM bapak yakin bisa dengan lulus sudah mempunyai keterampilan, kalo ke SMA kamu belum tentu bisa langsung bekerja" sambil senyum mencoba berusaha meyakinkan aku.
Sejenak terpikir aku juga ga mau menyusahkan bapakku yang saat itu sudah mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Kasian bapak aku disaat anaknya mau masuk sekolah baru malah mengalami kebangkrutan. Aku mau menginjakkan ke tingkat menengah atas dan kakakku daftar ke universitas swasta yang pastinya membutuhkan uang lebih banyak daripada masuk negeri.Waktunya aku mencoba daftar di SMK favorit yang ada di Garut dan Cimahi. Bapak aku sih pengennya aku bisa masuk ke Cimahi konon katanya langsung kerja,kalo udah kerja bisa kuliah pake duit sendiri. Meski sebenernya mama aku ragu dikarenakan jarak terlalu jauh dan aku seorang perempuan yang mestinya g boleh jauh2 dari rumah.
Langganan:
Postingan (Atom)
